
- SEJARAH BERDIRINYA PT.PEMBANGKITAN JAWA BALI (PT. PJB)
Sejarah PT. PJB bermulai sejak tahun 1945, dimana didirikan Perusahaan Listrik dan Gas. Tahun 1965, perusahaan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu Perusahaan Listrik Negara dan Perusahaan Gas Negara. Tahun 1972, status PLN menjadi perusahaan umum (Perum). Tahun 1982, PLN dipecahkan lagi menjadi dua, yaitu Unit Devisi dan Unit Persero. Setahun kemudian, dilakukan restrukturisasi atas PT. PLN (Persero) listrik dengan pendiriran subside pembangkitan. Restrukturisasi ini dilakukan untuk memisahkan misi perusahaan atas social dan komersial.
Pada tanggal 03 Oktober 1995, PT. PLN membentuk dua anak perusahaan untuk mengelola pembangkit yang memasok energy listrik di Pulau Jawa dan Bali. Kedua perusahaan PLN tersebut adalah PT. PLN Pembangkit Jawa Bali 1 (PT. PLN PJB 1) yang berkantor pusat di Jakarta dan PT. PLN Pembangkit Jawa Bali 2 (PT. PLN PJB 2) yang berkantor pusat di Surabaya. Pada tahun 2000, PT. PLN PJB 2 diubah menjadi PT. Pembangkit Jawa Bali atau disingkat PT. PJB, sedangkan PT. PLN PJB 1 berubah menjadi PT. Indonesia Power.
Awalnya PT. PJB hanya menjalankan bisnis membangkitkan energy listrik dari enam Unit Pembangkit (UP) yang dimiliki yaitu UP Gresik (2.219 MW), UP Paiton (800 MW), UP Muara Karang (908 MW), UP Muara Tawar (920 MW), UP Cirata (1.008 MW) dan UP Brantas (281 MW). Tapi kini PT. PJB berkembang dan menjalankan berbagai usaha yang berkaitan dengan bidang pembangkitan yang antara lain Jasa Operation dan Maintenance (O dan M), Engineering, Procurement and Construction (EPC), konsultan bidang pembangkit, pendidikan dan pelatihan tata kelola pembangkit, pendidikan dan pelatihan energy terbarukan, serta usaha lain dalam rangka memanfaatkan secara maksimal potensi yang dimiliki perusahaan.
- Logo Instansi

Gambar 2.1 Logo PT. Pembangkitan Jawa-Bali
- Bentuk Lambang
Bentuk, warna dan makna lambang perusahaan yang resmi digunakan adalah sesuai dengan yang tercantum pada lampiran Surat Keputusan Direksi Perusahaan Umum Listrik Negara No. 031/DIR/76 Tanggal 01 Juni 1976, mengenai Pembakuan Lambang Perusahaan Umum Listrik Negara.
- Bidang persegi panjang vertical
Menjadi bidang dasar bagi elemen-elemen lambang lainnya.Melambangkan bahwa PT. PLN (Persero) merupaka wadah atau organisasi yang terorganisir dengan sempurna.Berwarna kuning untuk menggambarkan pencerahan seperti yang diharapkan PLN bahwa listrik mampu menciptakan pencerahan bagi kehidupan masyarakat.Kuning juga melambangkan semangat yang menyala-nyala yang dimiliki setiap insan yang berkarya di perusahaan ini.
- Petir atau Kilat
Melambangkan tenaga listrik yang terkandung di dalamnya sebagai produk jasa utama yang dihasilkan oleh perusahaan.Selain itu Petir juga mengartikan kerja cepat dan tepat para insan dalam memberikan solusi terbaik bagi para pelanggannya.Warna yang merah berarti melambangkan kedewasaan PLN sebagai perusahaan listrik pertama di Indonesia dan Kedinamisan gerak laju perusahaan beserta setip insan perusahaan serta keberanian dalam menghadapi tantangan perkembangan jaman.
- Tiga Gelombang
Memiliki arti sebagai gaya rambat listrik yang di alirkan oleh tiga bidang usaha utama yang digeluti perusahaan yaitu Pembangkitan, Penyaluran, dan Distibusi yang seiring sejalan dengan kerja keras para insan perusahaan guna memberikan layanan terbaik bagi pelanggannya. Diberi warna biru untuk menampilkan kesan konstan seperti halnya listrik yang tetap diperlukan dalam kehidupan manusia.Disamping itu biru juga melambangkan kandalan yang dimiliki insan-insan perusahaan dalam memberikan layanan terbaik bagi para pelanggannya.
- Budaya Perusahaan
Salah satu aspek dari perkembangan sumber daya manusia perusahaan adalah pembentukan budaya perusahaan. Unsur-unsur budaya perusahaan :
- Perilaku akan ditunjukkan seseorang akibat adanya suatu keyakinan akan niali-nilai filosofi.
- Nilai adalah bagian dari budaya (culture) perusahaan yang dirumuskan untuk membantu supaya mewujudkan budaya perusahaan tersebut. Di PT. PLN PJB nilai ini disebut “Filosofi Perusahaan”.
- Paradigma adalah suatu kerangka berfikir yang melandasi cara seseorang menilai sesuatu.
Budaya perusahaan diarahkan untuk membentuk sikap dan perilaku yang didasarkan pada 5 filosofi dasar dan lebih lanjut, filosofi dasar ini diwujudkan dalam 12 dimensi perilaku.
- Lima Filosofi Perusahaan
Lima filosofi ini merupakan dasar dari pelayanan yang telah disepakati bersama di PT. PLN PJB dan merupakan dasar komitmen bersama untuk meningkatkan kwalitas pelayanan, antara lain :
- Mengutamakan Pasar dan Pelanggan. Berorientasi kepada pasar serta memberikan pelayanan terbaik dan nilai tambah kepada pelanggan.
- Menciptakan Keunggulan untuk Memenangkan Persaingan. Menciptakan keunggulan melalui sumber daya manusia, teknologi Finansial, dan proses bisnis yang andal dengan semangat untuk memenangkan persaingan.
- Memperoleh Pemanfaat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Terdepan dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi secara optimal.
- Menjunjung Tinggi Etika Bisnis. Menerapkan etika bisnis sesuai standar etika bisnis Internasional.
- Memberi Penghargaan atas Prestasi. Memberi penghargaan atas prestasi untuk mencapai kinerja perusahaan yang maksimal.
Filosofi perusahaan dibuat karena
- Memberikan acuan bagi seluruh anggota organisasi tentang bagaimana cara merealisasikan budaya perusahaan.
- Merumuskan apa yang dianggap penting tentang bagaimana berhasil dalam berbisnis.
- Memberikan motivasi, memacu prestasi dan produktivitas perusahaan.
- Memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai identitas dan cerita perusahaan.
- VISI DAN MISI PERUSAHAAN
- Visi
“Menjadi perusahaan pembangkitan tenaga listrik Indonesia yang terkemuka dengan standart kelas dunia”.
- Misi
- Memproduksi tenaga listrik yang handal dan berdaya saing
- Meningkatkan kinerja secara berkelanjutan melalui implementasi tata kelola pembangkitan dan sinergi business partner dengan metode best practice dan ramah lingkungan
- Mengembangkan kapasitas dan kapabilitas SDM yang mempunyai kompetensi teknik dan menejerial yang unggul serta berwawasan bisnis.
- Motto
“Menjadikan PLTU Pacitan, Pembangkit listrik yang handal serta efisien”.
- PJB Way
PJB Way adalah tekad sikap dan perilaku yang melekat diseluruh insan PJB dalam melaksanakan misi untuk mencapai visi. PJB Way dijabarkan oleh 1 tekad 5 sikap dan 11 perilaku dengan rincian sebagai berikut :
- Satu tekad untuk mencapai tujuan menjadi “Produsen listrik terpercaya kini dan mendatang”
- Lima sikap dalam tata nilai inti : Integritas, Keunggulan Kerjasama, Pelayanan, dan Sadar lingkungan.
- Sebelas perilaku dengan elemen-elemen :
- Kepemimpinan yang visioner (Visionery Leadership).
- Keunggulan menurut pelanggan (Customer-Driven Excellent).
- Pembelajaran perorangan dan perusahaan (Organizasional dan Personal Learning).
- Menghargai tenaga kerja dan mitra (Valuing Workforce Members and Partners).
- Kegesitan (Agility).
- Fokus kepada masa depan (Focus on the Future).
- Mengelola inovasi (Managing for Inovation).
- Manajemen berdasarkan fakta (Management by Fact).
- Pertanggung jawaban kemasyarakatan (Societal Responsilibity).
- Focus kepada hasil dan penciptaan nilai (Focus on Results and Creating Value).
- Perspektif kesisteman (Systems Perspektf).
- KEBIJAKAN PERUSAHAAN TENTANG SAFETY DAN LINGKUNGAN
PT. PJB selalu mempunyai komitmen untuk upaya perlindungan diri terhadap tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaan di tempat kerja termasuk orang lain yang memasuki tempat kerja maupun proses produk dapat secara aman dan efisien dalam produksinya.
- Tujuan dan Sarana
Tujuan dari kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja yaitu untuk menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan sehat.Menjamin setiap sumber produksi dipakai secara aman dan efisien. Menjamin proses produksi berjalan lancar. Sasaran dari kebijakan tersebut adalah untuk menekan angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja sampai nihil.
- Alat Pelindung Diri
K3 yang diterapkan PT. PJB harus memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan, yaitu :
- Memberikan perlindungan diri yang kuat terhadap bahaya yang spesifik.
- Beratnya seringan mungkin dan nyaman.
- Dapat dipakai secara fleksibel.
- Bentuknya menarik.
- Tidak mudah rusak.
- Tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan.
- Memenuhi Standar.
- Tidak membatasi gerakan pemakainya.
- Suku cadang mudah didapatkan
